Sunday, April 14, 2013

Petani Bawang Merah di Cikalong Pangalengan

Berkebun dan bertani sudah menjadi tradisi warga Cikalong meskipun sebagian besar generasi muda warga setempat sudah beralih profesi menjadi pegawai negeri dan pegawai swasta. Bukan tanpa alasan, mereka melakukan ini karena tuntutan kebutuhan ekonomi yang tidak bisa terpenuhi hanya dengan budidaya sayuran. Sampai saat ini tradisi yang sudah turun-temurun ini masih dilakukan sebagian penduduk Cikalong meskipun jumlahnya terus berkurang.

Biaya pemeliharaan yang semakin mahal ditambah harga pupuk dan pestisida yang tak kunjung turun menjadi faktor penyebab sebagian petani di daerah Cikalong tidak lagi melanjutkan tradisi orangtua mereka bercocok tanam. Bayangkan jika kondisi seperti ini terus berlanjut sampai beberapa generasi. Kepunahan hasil bumi tidak mustahil akan berkurang dan bisa saja menghilang secara perlahan ditelan budaya modern. Jika demikian, mau tidak mau impor sayuran akan dibutuhkan untuk meng-handle dan memenuhi kebutuhan pasar.

Masalah yang timbul dari satu komoditi sayuran saja dan dari satu wilayah pertanian saja dapat berakibat buruk terhadap stabilitas harga sayuran dan kebutuhan pokok lainnya. Mahalnya harga bawang merah saja dapat mengakibatkan harga komoditi lain juga ikut mahal. Oleh karena itu, perlu suatu metoda dan langkah real dari pemerintah khususnya departemen pertanian dan kehutanan untuk mengatur dan memantau perkembangan budidaya sayuran di seluruh Indonesia. Jika budidaya sayuran diatur dengan benar sesuai dengan standar, maka selain dapat meningkatkan taraf hidup para petani, juga dapat menjaga kelestarian lingkungan dan keindahan alam di sekitarnya.

Foto di bawah adalah para petani bawang merah di Cikalong Pangalengan Kabupaten Bandung yang tengah membersihkan tanaman bawang merah dari gulma (tanaman pengganggu). Kegiatan ini mereka lakukan sebagai pekerjaan sehari-hari dengan harapan bawang merah yang mereka tanam akan tumbuh subur dan dapat memberi keuntungan ketika dipanen nanti. Lama budidaya tanaman bawang merah ini sekitar 3-4 bulan.

Para petani bawang merah tengah membersihkan tanaman dari gulma

Bawang merah yang telah dipanen kemudian dikeringkan untuk mendapatkan kualitas yang baik dan harga yang lebih mahal. Hal ini dikarenakan bawang merah kering harganya lebih mahal dari bawang merah basah yang belum dikeringkan meskipun lebih berat.

Karena berlokasi di pegunungan dengan suhu udara yang cukup dingin dan tanah yang subur, Cikalong  cocok dijasikan lahan pertanian khususnya tanaman sayur seperti bawang merah, bawang daun, cabe merah, tomat, kubis, wortel dan tanaman sayuran lainnya.

Petani bawang mengeringkan bawang yang sudah dipanen

Mengingat suburnya tanah dengan ditunjang suhu udara yang dingin, sekecil apapun lahan yang dimiliki warga setempat dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran yang bermanfaat, setidaknya untuk dikonsumsi sendiri. Teknik budidaya sayuran yang mereka lakukan masih menggunakan cara-cara tradisional tanpa bantuan mesin-mesin pertanian yang serba canggih dan memadai.

Disamping itu, mengingat mahalnya harga pupuk dan pestisida, penerapan pupuk dan dosis penggunaan pestisida sering mereka kurangi dengan tujuan menghemat biaya pemeliharaan. Padahal pengurangan dosis dan konsentrasi pestisida yang telah ditentukan dapat mengakibatkan hama dan penyakit cepat berkembang karena pestisida menjadi tidak ampuh lagi, lebih jauhnya dapat merusak tanaman sehingga pada akhirnya dapat merugikan pentani karena hasil panen tidak maksimal.

Petani bawang merah tengah menyiangi tanaman bawang
Tindakan real dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk memberikan bantuan dan subsidi pupuk dan pestisida sangat mereka harapkan. Paling tidak pemerintah perlu menekan harga pupuk dan pestisida agar tidak terlalu mahal dan dapat terjangkau oleh petani kecil seperti di Cikalong dan sekitarnya.

Petani Bawang Merah di Cikalong Pangalengan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yuda Isparela