Cara Membuat Iket (Lanjutan)

Posting ini adalah lanjutan (tambahan) dari posting sebelumnya mengenai cara membuat iket. Meski terlihat cara membuatnya cukup mudah namun bagi pemula memerlukan latihan dan praktek yang cukup agar bisa membuat iket dengan baik. Baik di sini dalam artian kualitas pengerjaan dan jenis bahan baku yang dipakai.

Iket yang baik dan berkualitas bukan saja enak dipandang tetapi juga awet dan nyaman dipakai. Silakan sahabat buktikan sendiri. Untuk membuat ikat (iket dalam bahasa Sunda) yang berkualitas tentu harus ditunjang dengan bahan baku yang baik dan peralatan yang memadai. Kualitas bahan iket akan mempengaruhi usia iket dan kenyamanan pengguna saat dipakai, sedangkan kualitas peralatan seperti mesin jahit dan mesin neci akan berpengaruh terhadap kecepatan dan kualitas pengerjaan.

Video di bawah menampilkan seorang pengrajin iket senior dari Kecamatan Pameungpeuk Bandung Jawa Barat tengah membuat iket untuk memenuhi pesanan konsumen. Keluarga beliau seluruhnya menyukai seni, mulai dari seni lukis sampai seni menjahit. Tidak heran orang yang akrab dipanggil dengan sapaan Tohirin ini sangat piawai dalam membuat kerajinan-kerajinan tangan. Bukan saja iket (udeng) tetapi juga terampil membuat blangkon (bendo: Sunda), peci, dan sandal pengantin. Terakhir beliau membuat tas untuk jas pernikahan.


Tohirin tengah asyik membuat iket Sunda

Meski peralatan yang digunakan tidak semodern pengusaha besar, beliau selalu serius dalam mengerjakan produknya. Apapun bahan bakunya, bagaimanapun kualitas mesinnya, dan siapapun pemesannya, selalu dikerjakan dengan serius. Beliau merasa puas jika konsumen merasa puas dari hasil pekerjaannya. Itu motonya.

Hampir semua produk yang beliau buat berhubungan dengan seni dan budaya khususnya budaya Sunda. Andai saja ada suntikan dana dari pemerintah daerah tentu usaha yang beliau bangun bersama keluarga akan lebih maju lagi. Terbukti dengan modal pas-pasan saja beliau dapat membantu masyarakat setempat dengan memberikan lahan pekerjaan termasuk kepada ibu-ibu.

Beliau tidak mempunyai ruangan khusus kerja para karyawan karena hampir seluruh pekerjaannya dilakukan di rumah masing-masing. Kang Tohirin hanya memeriksa dan mensortir hasil pekerjaan setiap karyawannya.

Para pekerja tidak digaji bulanan seperti karyawan pabrik dan perkantoran tetapi mereka diberi upah per satuan produk. Semakin banyak yang bisa diselesaikan, maka semakin besar upah yang diterima para pekerja, semakin cepat selesai, maka semakin cepat mendapat upah meski dalam kondisi tertentu upah diberikan dimuka.

Sahabat tertarik untuk memesan iket atau blangkon? Silakan kunjungi GROSIR IKET.

Comments

Popular posts from this blog

Menghitung Arus, Tegangan, Daya, dan Resistansi Pada Rangkaian Seri

Menghitung Arus, Tegangan, Daya, dan Resistansi pada Rangkaian Paralel

Kapasitor atau Condensator