Skip to main content

Menghitung Arus, Tegangan, Daya, dan Resistansi pada Rangkaian Paralel

Untuk memahami struktur rangkaian paralel dapat dilihat dari hubungan antar kaki (terminal) setiap komponen elektronika. Jika pangkal kaki suatu komponen dihubungkan dengan pangkal komponen lainnya dan ujung kaki komponen tersebut dihubungkan dengan ujung kaki komponen lainnya, maka hubungan seperti ini disebut paralel dimana setiap komponen dijajarkan. Apabila setiap ujung kaki tersebut dihubungkan ke sumber tegangan, dalam elektronika disebut dengan istilah rangkaian tertutup (close circuit) sehingga arus dapat mengalir dari sumber tegangan melalui komponen-komponen tersebut.

Arus yang mengalir pada setiap komponen pada rangkaian paralel dapat berbeda tergantung besar kecilnya resistansi komponen tersebut. Dengan kata lain arus sumber akan dibagi ke setiap komponen dan akan menyatu kembali di ujung rangkaian. Pada rangkaian paralel, tegangan di setiap ujung kaki komponen adalah sama besar.

Untuk menghitung arus, tegangan, daya, dan resistansi pada rangkaian paralel dapat menggunakan kombinasi antara hukum Ohm dan hukum Kirchhoff. Menurut hukum Kirchhoff, arus yang mengalir dan menuju satu titik akan sama dengan arus yang keluar dari titik tersebut, I = I1 + I2 + In atau I1 + I2 + In = I. Penjelasan lebih detil mengenai hukum Ohm dan hukum Kirchhoff akan dibahas di posting lain.

Perhatikan gambar di bawah yang terdiri dari sumber tegangan (V) dan dua buah resistor (R1 dan R2) yang dipasang paralel. Arus sumber (arus total) akan terbagi dua yang akan mengalir ke R1 (I1) dan ke R2 (I2), sedangkan di setiap ujung resistor arus akan bergabung kembali. Oleh sebab itulah arus yang mengalir pada setiap resistor besarnya belum tentu sama, tergantung besar kecilnya resistor-resistor tersebut. Semakin besar resistansi maka akan semakin kecil arus yang mengalir, begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu untuk menghitung arus, tegangan, daya, dan resistansi pada rangkaian paralel tidak bisa menggunakan cara-cara perhitungan seperti pada rangkaian seri.
Rangkaian Paralel

Rangkaian Paralel

Untuk lebih jelasnya sahabat dapat memperhatikan contoh gambar di atas. Jika tegangan sumber (V) adalah 12 Volt, R1 = 2 KΩ, dan R3 = 3 KΩ, berapa arus yang mengalir di setiap resistor dan berapa daya masing-masing resistor tersebut?
Berikut solusinya:

Diketahui
V = 12 Volt
R1 = 2 KΩ = 2.000 Ω
R2 = 3 KΩ = 3.000 Ω
V = VR1 = VR2 = 12 V

Menghitung Resistansi
1/RTotal = 1/R1 + 1/R2 (rumus resistor paralel)
1/RTotal = 1/2.000 + 1/3.000
1/RTotal = 3/6.000 + 2/6.000 (samakan penyebutnya)
1/RTotal = 5/6.000
RTotal = 6.000/5
RTotal = 1.200 Ω atau 1.2 KΩ

Menghitung Arus
V = I x R (hukum Ohm)
I = V / R
ITotal = V/RTotal
ITotal = 12 / 1.200
ITotal = 0.01 A atau 10 mA

Gunakan perbandingan terbalik untuk menghitung arus I1 dan I2 (ada 5 bagian yakni dari penyederhanaan 2 KΩ dan 3 KΩ) jadi:

ITotal = I1 + I2
3/5 + 2/5 = 5/5 atau 1
I1 = tiga bagian dari 5
I2 = dua bagian dari 5

I1 = 3/5 x ITotal
I1 = 3/5 x 0.01
I1 = 0.006 A atau 6 mA

I2 = 2/5 x ITotal
I2 = 2/5 x 0.01
I2 = 0.004 A atau 4 mA

ITotal = I1 + I2
ITotal = 0.006 + 0.004
ITotal = 0.01 A atau 10 mA

Menghitung Tegangan
V = VR1 = VR2 (tegangan pada rangkaian paralel besarnya sama)
VR1 = 12 Volt
VR2 = 12 Volt

Menghitung Daya
P = I x V
P1 = I1 x VR1
P1 = 0.006 x 12
P1 = 0.072 Watt atau 72 mW

P2 = I2 x VR2
P2 = 0.004 x 12
p2 = 0.048 Watt atau 48 mW

Kesimpulan
  1. Besarnya arus total adalah 10 mili Ampere
  2. Arus yang mengalir di R1 (I1) adalah 6 mili Watt
  3. Arusyang mengalir di R2 (I2) adalah 4 mili Watt
  4. Daya di R1 (P1) adalah 72 mili Watt
  5. Daya di R2 (P2) adalah 48 mili Watt
Demikian penjelasan singkat mengenai metode untuk menghitung arus, tegangan, daya, dan resistansi pada rangkaian paralel. Semoga bermanfaat.

Popular posts from this blog

Menghitung Arus, Tegangan, Daya, dan Resistansi Pada Rangkaian Seri

Struktur hubungan komponen pada rangkaian seri adalah berderet yakni ujung terminal suatu komponen elektronika dihubungkan dengan pangkal terminal komponen kedua, ujung terminal komponen kedua dihubungkan dengan pangkal terminal komponen ketiga dan seterusnya. Jika pangkal terminal komponen pertama dihubungkan dengan sumber tegangan positif dan ujung terminal komponen terakhir dihubungkan dengan sumber tegangan negatif, maka hubungan seperti ini di dalam elektronika dikenal dengan istilah rangkaian tertutup (close circuit). Dalam kondisi ini arus listrik akan mengalir dari positif ke negatif melalui komponen-komponen elektronika yang dideretkan (hubungan seri). Besarnya arus yang mengalir pada rangkaian seri adalah sama.

Gambar di bawah adalah contoh rangkaian seri sederhana yang terdiri dari dua buah resistor (R1 dan R2) dan sumber tegangan (V). Untuk menghitung arus, tegangan, daya, dan resistansi pada rangkaian seri dapat menggunakan hukun Ohm yaitu V=IxR. V adalah sumber tegangan …

Contoh Kata Berawalan "Ber"

Pendidikan Bahasa Indonesia
Imbuhan dalam sebuah kata selalu digunakan ketika berkomunikasi melalui lisan atau tulisan. Dalam satu kalimat saja pembicara dapat menggunakan banyak imbuhan sesuai dengan tujuan dan fungsinya.

Imbuhan adalah kata tambahan yang dilekatkan pada kata dasar. Menurut Ejaaan Yang Disempurnakan (EYD) ada 4 jenis imbuhan yaitu awalan, sisipan, akhiran, dan awalan akhiran. Fokus pembahasan di posting ini adalah awalan "ber" dan conto-contohnya dalam kalimat.

Awalan ber- di dalam bahasa Indonesia berfungsi sebagai pembentuk kata kerja atau kata sifat. Kata kerja yang dibentuk tidak memiliki objek (intransitif), tapi dapat memiliki pelengkap atau keterangan. Karena kata kerja yang dihasilkan awalan ber- intransitif, kata kerja itu tidak dapat dipasifkan dengan awalan di-.

Awalan ber- akan berubah bentuk menjadi:
be- jika suku awal mengandung -er- atau kata dasarnya diawali huruf r, misal: bekerja; beternak; berumput; beracunbel- untuk kasus khusus, yaitu: b…