Thursday, November 28, 2013

Ketika Dokter Unjuk Rasa

Kalau kita dengar peristiwa buruh berunjuk rasa, itu sudah biasa, dalam sebulan terakhir ini saja di beberapa daerah di Indonesia sering terjadi demo buruh untuk menuntut kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) yang mereka anggap sudah tidak sesuai dengan kebutuhan hidup, apalagi jika mereka tinggal di kota-kota besar seperti di Jabodetabek yang membutuhkan biaya hidup cukup besar. Tuntutan semacam ini wajar-wajar saja karena berhubungan dengan keinginan untuk meningkatkan taraf hidup melalui kenaikan upah pokok di perusahaan tempat mereka bekerja.

Bagaimana jika yang melakukan unjuk rasa tersebut bukan buruh tetapi orang yang berprofesi dokter? Masih wajarkah unjuk rasa para dokter secara masal di seluruh Indonesia? Jika dokter berdemo dengan tuntutan kenaikan upah, rasanya sangat tidak wajar mengingat besarnya penghasilan seorang dokter. Bagaimana jika maksud unjuk rasa para dokter tersebut untuk membela rekan sejawatnya yang diduga melakukan mal praktek sampai pasiennya meninggal dunia?

Jika terbukti secara hukum telah melakukan mal praktek sampai mengakibatkan meninggalnya pasien, saya pikir unjuk rasa para dokter tersebut sangat tidak wajar karena secara tidak langsung mereka mendukung dan membela orang yang salah, apalagi unjuk rasa dilakukan secara serempak di berbagai daerah di Indonesia. Lain halnya jika kasus tadi tidak terbukti dan hanya merupakan dugaan semata, maka unjuk rasa dokter tersebut sangat logis dan manusiawi.

Sayangnya di Indonesia kasus dokter yang berujuk rasa ini justru terlihat seperti lebih mementingan teman sejawatnya daripada kepentingan pasien. Di Sulawesi, seorang ibu yang membawa anaknya ke rumah sakit tidak dilayani dengan alasannya dokternya sedang berunjuk rasa. Padahal penyakit Si Anak tersebut adalah demam berdarah. Kasus lain, di Jawa timur seorang kakek yang tidak dilayani dokter padahal ia sedang sakit jantung.

Anggap saja bahwa teman dokter tersebut tidak terbukti bersalah karena sudah sesuai dengan etika dokter dan prosedur kerja. Apakah masih pantas orang seintelek dokter melakukan unjuk rasa masal dengan mengabaikan para pasien yang membutuhkan bantuannya? Padahal mereka dapat tetap berunjuk rasa melalui perwakilan tanpa harus menomorduakan pasien. Benar gak?

Ketika Dokter Unjuk Rasa Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yuda Isparela