Minggu, 24 Maret 2013
Teknik Budidaya Ikan Lele
Sumber Foto: Pakan Ikan Madiun
Budidaya ikan lele sebagai salah satu bentuk usaha peternakan, sampai saat ini merupakan bentuk usaha yang diperkirakan masih menguntungkan. Selain karena kebutuhan pasar dalam negeri, permintaan untuk ekspor pun masih cukup tinggi. Tidak hanya di rumah makan tegal (warteg) atau rumaha makan padang saja menu ikan lele disajikan, tetapi direstoran-restoran dan hotel besar pun menu ikan lele banyak digemari. Untuk memenuhi kebutuhan komoditi ikan lele ini tentu diperlukan teknik budidaya ikan lele yang benar.

Beragam menu masakan dapat diolah dengan bahan utama ikan lele, bukan saja karena rasanya yang gurih dan nikmat, tetapi juga kandungan gizinya yang cukup tinggi sehingga dapat memberikan nilai manfaat bagi kesehatan tubuh. Beberapa pakar kesehatan mengatakan bahwa kandungan gizi ikan lele dapat memberikan manfaat besar terhadap pertumbuhan anak.

Mengingat cukup pentingga budidaya ikan lele, sepertinya perlu campur tangan dan perhatian khusus pemerintah terhadap para peternak ikan lele. Selain untuk melestarikan ekosistem ikan lele, juga dari segi ekonomi dapat membatu para praktisi di bidang ikan lele, termasuk para peternak, pedagang, dan pemasak (konsumen). Bukan saja bantuan dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan ini tetapi juga pengetahuan dasar teknik budidaya ikan lele yang harus disosialisasikan. Dengan demikian hasil ternak lele akan lebih maksimal dan lebih sehat sesuai standar yang dibutuhkan.

Bagi Anda yang tertarik ingin mencoba beternak lele, Anda dapat mencobanya di lahan yang tidak terlalu luas. Berikut ini adalah teknik budidaya ikan lele.

PENDEDERAN

Budidaya ikan lele pada tahap ini merupakan teknik budidaya lele untuk membesarkan bibit lele berukuran 1-3 cm menjadi bibit lele berukuran 3-5 cm dengan waktu budidaya selama 2-3 minggu.

Penebaran Bibit
Penebaran bibit lele pada fase ini sangat rentan terhadap kematian, terutama diakibatkan stress maupun luka pada waktu penangkapan atau pengangkutan. Padat penebaran antara 500-750 ekor/m2. Sehingga untuk kolam budidaya leleseluas 10 m2 bisa ditebar bibit sebanyak 5.000-7.000 ekor. Untuk itu penebaran bibit lele harus dilakukan dengan sangat hati-hati, berikut cara penebaran bibit lele untuk mengurangi resiko stres dan luka :
  1. Pemindahan dilakukan pada pagi hari atau sore hari pada saat suhu air belum terlalu tinggi.
  2. Pengambilan bibit lele menggunakan jaring dengan ukuran rapat dan lembut.
  3. Bibit ditempatkan menggunakan wadah yang sudah diisi air dari kolam penebaran larva.
  4. Setelah wadah cukup penuh, bibit segera dipindah ke kolam penebaran dengan hati-hati. Wadah dimasukkan dalam kolam pendederan sampai air kolam masuk ke dalam wadah. Dengan cara demikian bibit akan berenang keluar dari wadah dengan sendirinya.
Pengaturan Air
Kualitas air kolam pendederan perlu dijaga, cara paling efektif adalah penggunaan air mengalir sistem paralon secara kontinyu dengan debit air tidak terlalu besar.

Pada budidaya lele pendederan, kualitas air tidak terlalu cepat menurun. Hal ini dikarenakan ukuran ikan masih sangat kecil, sehingga kotoran yang ditimbulkan belum begitu banyak. Pakan tambahan diberikan dalam jumlah sedikit, berbentuk tepung untuk menopang pertumbuhannya, sehingga tidak menimbulkan endapan sisa pakan yang bisa menurunkan kualitas air.

Pemberian Pakan Tambahan
Bibit lele berukuran 1-3 cm belum dapat makan pelet dalam bentuk butiran. Pada minggu pertama tidak perlu diberikan pakan tambahan. Bibit lele akan memakan pakan alami yang tersedia di kolam, seperti plankton, kutu air (Daphnia sp.) atau cacing sutra (Tubifex sp.) Untuk itu diusahakan agar kolam mengandung banyak pakan alami, misalnya dengan pemberian pupuk kandang fermentasi. Pada minggu kedua sampai ketiga perlu diberi pakan tambahan dalam bentuk tepung. Pakan diberikan sebanyak tiga kali, yaitu pagi, menjelang sore serta malam hari. Pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit, sampai tidak ada lagi bibit lele yang mengejar pakan.

Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama pada budidaya lele pendederan meliputi, ular, burung, kadal, serta katak. Sehingga harus dicegah hama tersebut masuk ke dalam kolam. Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan anyaman bambu untuk menutup permukaan kolam. Selain itu juga harus dilakukan sanitasi di areal kolam, untuk mengurangi datangnya hama tersebut. Bila hama telah terlanjur masuk harus segera dikeluarkan dari kolam.

Pencegahan penyakit bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan air serta pengaturan pH air. Usahakan agar pH air berkisar 6,5-6,8. Apabila pH air terlalu rendah, bisa ditambahkan kapur pertanian secukupnya. Pengukuran pH air bisa menggunakan kertas lakmus atau pH tester.

Apabila bibit lele menunjukan tanda-tanda terserang penyakit terutama jamur, bisa diberikan Malachite Green Oxalite 1-5 ml atau Methylene Blue 10 ml per 1 meter kubik air.

Seleksi Bibit Lele
Setelah berumur 18 hari bibit diseleksi untuk menggunakan ayakan bibit ukuran 3-5 cm. Bibit-bibit yang telah mencapai ukuran 3-5 cm dapat dipanen untuk dibesarkan pada Pendederan tahap kedua, atau bahkan dapat langsung dijual. Bibit lele tersebut merupakan bibit berkualitas tinggi karena memiliki keceptatan pertumbuhan yang baik.

Seleksi yang kedua dilakukan pada saat bibit telah dipelihara selama 21 hari. Kualitas bibit ini sedikit di bawah bibit hasil seleksi pertama. Bibit yang tidak lolos seleksi pertama dan kedua merupakan bibit sisa. Bibit ini dapat terus dibesarkan hingga mencapai 3-5 cm. kualitas bibit sisa ini tidak begitu baik.

Pada Pendederan tahap kedua tidak beda jauh dengan pendederan tahap pertama, hanya kepadatan penebaran harus dikurangi menjadi 250-300 ekor/m2.

PEMBESARAN DALAM KOLAM TERPAL

Pada dasarnya metode budidaya lele sistem kolam terpal merupakan solusi untuk beberapa kondisi antara lain lahan sempit, modal kecil serta solusi untuk daerah minim air. Lele merupakan ikan yang memiliki beberapa keistimewaan dan banyak diminati orang.

Budidaya lele tergolong mudah. Selain tidak memerlukan air dalam jumlah banyak, ikan lele juga relatif tahan terhadap penyakit. Pengaturan suhu air dan pemberian pakan yang cukup merupakan kunci keberhasilan budidaya lele. Selain lebih mudah dipelihara ikan lele juga cepat dalam pertumbuhannya. Dengan kondisi air “buruk” ikan lele mampu bertahan hidup dan berkembang baik, dengan demikian solusi pemeliharaan lele dalam kolam terpal menjadi alternatif yang perlu dicoba. Budidaya lele dumbo sistem kolam terpal mendatangkan peluang usaha yang cukup menjanjikan dan tidak memerlukan modal usaha yang besar. Analisis budidaya Lele dapat dilakukan dalam berbagai model untuk konsumsi dan pembibitan. Budidaya lele pembesaran merupakan upaya memelihara ikan Lele sampai ukuran layak konsumsi. Biasanya dari berat 1 ons sampai 1 kg per ekor`

PERSIAPAN PEMBUATAN KOLAM TERPAL

Persiapan untuk budidaya lele dengan kolam terpal meliputi persiapan lahan kolam, persiapan material terpal, serta persiapan perangkat pendukung. Lahan yang perlu disediakan disesuaikan dengan keadaan maupun kapasitas budidaya lele. Untuk budidaya lele pembesaran sampai tingkat konsumsi bisa digunakan lahan dengan ukuran 2 x 1x 0.6 meter. Model pembuatan kolam bisa dengan menggali tanah kemudian diberi terpal atau dengan membuat rangka dari kayu kemudian diberi terpal. Cara pertama membuat terpal tahan lebih lama.

Penebaran Bibit
Pengisian air dilakukan secara bertahap. Saat penebaran pengisian air hanya setinggi 40 cm agar bibit lele tidak terlalu sulit mengambil oksigen. Penebaran bibit pada budidaya lele dalam kolam terpal yaitu bibit lele berukuran 5-7 cm dengan kepadatan 40 ekor/m2. Waktu pemeliharaan antara 2-4 bulan, tergantung pada ukuran panen yang dikehendaki.

PEMELIHARAAN LELE 

Pada umur tujuh hari ketinggian air ditambah menjadi 50 cm. Ada baiknya disediakan rumpon atau semacam perlindungan untuk lele. Karena lele merupakan ikan yang senang bersembunyi di daerah tertutup.

Pemberian pakan dilakukan sehari tiga kali, yaitu pagi, siang, dan sore hari. Pakan diberikan sedikit demi sedikit sampai tidak ada lagi lele yang mengejar pakan. Jika di lingkungan tersedia pakan alami seperti bekicot, kerang, keong emas, rayap dan lain-lain, bisa diberikan makanan alami tersebut. Makanan alami selain bisa menghemat pengeluaran juga memiliki kandungan protein tinggi sehingga pertumbuhan lele lebih cepat.

Penggantian air dilakukan seminggu sekali, kurang lebih 10-30% dari volume air kolam, agar kolam tidak terlalu kotor serta untuk mengurangi serangan penyakit. Penyakit pada ikan lele mudah menyerang pada air yang kotor. Pada usia satu bulan dilakukan seleksi ikan lele. Biasanya ikan lele mengalami pertumbuhan yang tidak sama, sehingga jika tidak dipisahkan lele dengan ukuran kecil akan kalah bersaing dalam berebut makanan. Selain itu pisahkan jika ada ikan yang terindikasi terserang penyakit agar tidak menular.

Pada usia dua bulan lele telah siap untuk konsumsi atau jika mengehendaki ukuran lebih besar, budidaya lele bisa dilakukan selama 3-4 bulan.

Sumber:
Novik Kurnianti
Budidaya Lele